Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pandemi Memaksa Teknologi Merubah Cara Belajar Anak Sekolah Dasar

   
    Perkembangan mentalitas dan jiwa  seorang anak salah satunya difaktorkan oleh diri pribadi dari anak itu sendiri. Bagaimana dia mampu memanfaatkan keadaan dimana teknologi memiliki peran penting dalam kegiatan pembelajaran di mana saja. Tingkat emosi setiap pribadi pastilah berbeda –beda, beda taraf usia beda pemahaman, perbedaan usia berbeda pula cara dan pola pikirnya, apalagi pada taraf anak jenjang usia Sekolah Dasar, di mana sebagian besar atau rata-rata masih belum mencapai yang namanya kestabilan emosi yang baik. Anak pada taraf tersebut berada pada masa kanak-kanak akhir, yang mana dalam taraf tersebut, anak masih belajar untuk mengembangkan konsep-konsep kehidupan, masih suka bermain dengan teman sebayanya , masih merasa bebas tanpa merasa adanya beban dalam hidupnya.

     Anak masih belum bisa mengendalikan atau menentukan suasana hati secara sadar. Selain itu juga mereka belum bisa menentukan sikap yang haru diambil dalam setiap peristiwa yang terjadi. Maka dari itu, selain faktor dari dalam diri anak tersebut yang mempengaruhi perkembangan dirinya yaitu dari faktor luar, salah satunya adalah peran orang tua dalam keluarga. Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pertama dan paling awal, bagaimana seorang anak belajar mengenai makna-makna kehidupan, peran orang tua ialah sangat penting dalam lingkungan ini, bagaimana orang tua berlaku, itulah yang ditiru anak, jika orang tua mempercontohkan perlakuan yang positif, maka anak dalam memperlakukan sesuatu pastilah akan meniru hal positif tersebut, namun sebaliknya jika orang tua malah mempertontonkan hal yang negatif maka hal tersebut akan ditiru oleh anak sebagaimana yang orang tua mereka lakukan. Orang tua tidak hanya berperan mencukupi kebutuhan finansial atau jasmani anak saja, namun juga harus menjalankan peran orang tua sebagai suri tauladan yang baik untuk mencukupi kebutuhan rohani anak. 

    Selain dari lingkungan keluarga, terdapat faktor luar dari lingkungan keluarga yang mempengaruhi perkembangan psikologi perkembangan seorang anak, yaitu lingkungan masyarakat. Tidak dapat kita pungkiri, kita hidup di negara dengan penduduk yang beraneka ragam di setiap daerah baik itu ras, suku, agama, dan hal lainnya, jangankan tiap daerah, di dalam suatu kawasan pastilah muncul perbedaan-perbedaan tersebut. Anak pada taraf ini mulai untuk berkembang dengan melakukan penyesuaian terhadap lingkungannya. Mereka mulai untuk membentuk sikap dan mengembangkannya terhadap kelompok yang ada di dalam masyarakat sekitar. Namun, anak tidak serta merta tumbuh sendiri secara spontan ataupun secara mendadak. Dengan penyesuaian yang dilakukan, maka anak akan mampu untuk mempelajari dan membentuk sikap yang sesuai dengan peranannya, walaupun masih dalam taraf atau kawasan yang masih sederhana dan belum kompleks.

    Psikologi anak pada taraf ini masih mengacu pada hal-hal yang konkret, nyata, dan realtistik, belum mampu dan belum saatnya untuk menerima hal-hal yang abstrak, yang memerlukan penguasaan cara berpikir dari sudut pandang yang luas. Hal yang demikian sejalan dengan teori dan pendapat dari Jean Piaget . Sehingga ketika anak pada jenjang Sekolah Dasar, dalam merekam dan memahami pembelajaran yang mereka terima dan dapatkan harus dengan melihat melalui pengamatan benda-benda nyata secara langsung. Hal tersebut sangat bertolak belakang dengan konsep pembelajaran matematika, dimana konsep dalam mata pelajaran ini, justru memiliki karakteristik deduktif  berisi hal-hal yang abstrak yang perlu memberlakukan cara berpikir dengan menggunakan nalar dan secara sistematis . Oleh karena itu, pendidik perlu untuk menerapkan konsep atau metode induktif dalam proses mengajarnya yaitu dengan mengamati suatu permasalahan kemudian mendapatkan suatu kesimpulan dari kegiatan pengamatan masalah tersebut. Keadaan yang demikian menjadi tantangan tersendiri bagi anak dan pengajar, di samping itu pembelajaran daring (dalam jaringan) yang diberlakukan oleh pemerintah atas dasar untuk mencegah penyebaran virus Covid-19 yang yang telah melanda di semua lapisan bumi ini, menyebar di berbagai negara, khususnya di Indonesia yang pada tanggal 3 Maret 2021 telah genap setahun semenjak penetapan sistem Daring tersebut. Pemberlakuan peraturan tersebut, menambah tantangan bagi setiap individu dalam perkembangan hidupnya. Apalagi untuk anak yang berada pada taraf Sekolah Dasar, pada saat ini peran dari berbagai pihak akan sangat berpengaruh.

    Tidak dapat dipungkiri bahwa Pandemi Covid-19 ini berdampak pada setiap aspek kehidupan, baik perekonomian, kehidupan sosial, dan aspek lainnya. Namun, paling berdampak pada kehidupan manusia, sejalan dengan perkembangan Teknologi. Seperti diberlakukannya Work from Home dan Pemberlakuan lainnya yang sangat bergantung  pada Kemajuan teknologi berbasis Internet disegala aspek baik pekerjaan maupun terhadap sistem pendidikan. Dapat kita amati, bahwasanya penerapan sistem pembelajaran Dalam jaringan tersebut, memaksa peserta didik dan tenaga pengajar untuk menyesuaikan kegiatannya dengan menggunakan media berbasis teknologi internet. Bagi mereka yang sama sekali belum mengenal akan pemanfaatan teknologi tersebut, diharuskan untuk mulai belajar sehingga mempunyai kapasitas dalam memenuhi kebutuhan bagi dirinya sendiri maupun untuk peserta didiknya. Sama halnya dari sisi peserta didik, mereka mau tidak mau, suka tidak suka harus belajar memanfaatkan teknologi untuk menunjang kebutuhan pembelajarannya. Untuk taraf peserta didik pada jenjang Sekolah menengah baik pertama, menengah, dan sederajat, dirasa lebih mudah menguasai akan hal tersebut. Tetapi untuk anak dalam jenjang pendidikan Sekolah Dasar, mengingat masih dalam tahap yang sangat butuh bimbingan, akan sulit untuk belajar akan hal tersebut secara otodidak. Oleh karena itu, selain mendapat didikan dari pendidik di sekolahan, peran orang tua sangat diperlukan untuk menjadi sosok pendidik di rumah, dalam mengawasi dan membimbing buah hatinya.   

    Anak pada jenjang ini masih dalam taraf senang bermain, tanpa ada beban yang diemban. Mereka cenderung akan menolak apa yang diberikan kepada mereka, merespon kembali secara negatif apa yang mereka anggap sebagai tekanan. Apabila kondisi yang demikian berlanjut, maka mereka akan terpengaruh negatif baik secara mental maupun psikis yang mana hal tersebut akan mengganggu tumbuh kembang mereka baik secara psikologi maupun fisik. Maka dari itu, sejalan dengan pandemi ini dan pemberlakukan sistem dalam jaringan, selain menjadi sebuah tantangan, juga menjadi peluang agar anak lebih berkembang.

    Dampak baik dari diberlakukannya sistem dalam jaringan ini, terhadap sistem pendidikan dirasa telah sesuai. Dengan sistem berbasis internet dan teknologi yang diterapkan ditimbang sangat perlu, mengingat arus kemajuan teknologi yang sangat deras dan mutakhir, perlu adanya pembiasaan. Apalagi melihat bahwa pada masa kanak-kanak atau pada jenjang pendidikan Sekolah Dasar, pertumbuhan mereka baik dari sisi motorik maupun psikologi sedang dalam taraf yang sangat pesat. Dalam suatu kajian mengenai neourologi menyatakan bahwa, sekitar 50% kapasitas kecerdasan manusia terjadi ketika anak berada pada usia 4 tahun, 80% terjadi pada umur 8 tahun, dan mencapai titik kuminasi pada usia sekitar 18 tahun. Sesuai dengan kajian tersebut, menyatakan bahwa manusia pada masa kanak-kanak tersebut sedang dalam masa pertumbuhan yang luar biasa, sehingga anak akan lebih mudah menguasai sesuatu hal yang baru, menyesuaikan, dan mendapat pengalaman dengan baik. Pengalaman tersebut akan memberikan dampak yang positif dalam jangka panjang, walaupun perkembangan anak di taraf ini terbilang cepat, namun untuk proses yang harus dilalui pasti sangatlah kompleks, tidak sesederhana kita membalikan telapak tangan, perlunya waktu yang tidak sebentar akan memperoleh hasil yang baik.

    Kecanggihan teknologi tidak hanya sebatas perangkat seperti Smartphone, laptop, komputer, dan sejenisnya, namun juga termasuk pada media atau platform di dalamnya yang dapat digunakan untuk menunjang pembelajaran selama pandemi ini. Diantaranya ada la penggunaan media atau platform sosial bernama TikTok. Media satu ini sangat populer akhir-akhir ini, ditambah adanya pemberlakuan PSBB (Pembatasam Sosial Berskala Besar) atau yang kita kenal juga dengan istilah lockdown.  PSBB itu sendiri merupakan ketentuan yang diberlakukan oleh pemerintah sejak 24 April 2020 secara menyeluruh di Indonesia, yang mana memaksa orang-orang untuk melakukan pembatasan aktivitasnya di rumah. Kembali ke TikTok, platform media hiburan asal Tiongkok yang mulai diluncurkan pada September 2016. Di dalam aplikasi TikTok ini disediakan banyak fitur yang dapat dipergunakan untuk mempercantik di dalam pembuatan konten video untuk menarik penonton. Selain berisi konten-konten hiburan, juga banyak pembuat konten atau content creator yang menyajikan pembahasan berbagai hal seputar pendidikan, entah itu tentang kehidupan di sekolah, keseharian di sekolah, termasuk ke dalam internet nya seperti pembahasan materi-materi dan soal-soal. Dengan update terbaru aplikasi TikTok ini dapat digunakan untuk menyiarkan secara langsung kegiatan yang dibawakan oleh pembuat konten dalam akunnya. Biasanya selain menceritakan kesehariannya, content creator edukasi melakukan siaran langsung, mengajak orang-orang lain untuk belajar bersama, entah itu materi atau pembahasan soal layaknya seperti guru kepada murid.

 

    Selain penggunaan aplikasi TikTok tersebut, ada juga yang biasa kita kenal dengan Youtube. Sekarang siapa si yang tidak kenal dengan nama YouTube?, pasti rata-rata orang sudah sangat familiar dengan platform sejuta umat ini. Jauh sebelum TikTok ada dan terkenal, YouTube ini sudah memulai dikenal sebagai platform hiburan. Namun, akhir-akhir ini, mulai banyak jenis konten yang dibuat, tidak hanya berbau hiburan saja, konten edukasi atau pengetahuan pun sudah banyak dibuat. Layaknya aplikasi TikTok, YouTube ini memberikan konten berupa video yang dapat dilihat oleh orang banyak, namun perbedaannya terletak pada durasinya yang lebih lama.Seperti TikTok, seiring waktu platform youtube ini dapat dipergunakan untuk menyiarkan secara live atau langsung. Keadaan tersebut semakin sering dilakukan karena pandemi Covid-19 ini. Hal yang sering disiarkan salah satunya dari sisi pendidikan adalah kegiatan suatu instansi, seperti kegiatan rutin maupun seminar secara online atau biasa kita kenal dengan nama webinar. Selain itu, juga dari pemerintah sering menginformasikan keadaan terbaru mengenai pendidikan atau hal lain lewat YouTube tersebut.

    Dengan adanya contoh penggunaan dari platform-platform di atas, menambah kemudahan bagi berjalannya kegiatan pendidikan sekaligus merubah pola kebiasaan anak dalam belajar. Contoh penggunaan dua aplikasi di atas, sangat berkaitan dengan kemajuan teknologi saat ini. Selain itu berpengaruh terhadap anak dalam memperoleh konten pembelajaran. Lalu apa hubungannya pemanfaatan sarana teknologi tersebut dengan perkembangan anak?. Tentu saja sangatlah berpengaruh, dapat kita amati bahwa sebelum maraknya penggunaan platform-platform di atas dahulu anak-anak terlebih anak SD dan di pedesaan, mendapatkan materi atau konten pembelajaran hanya dari buku konvensional atau buku cetak yang disediakan oleh sekolah saja, sehingga jika ingin menambah referensi, orang tua harus pergi membeli buku tersebut ke toko buku untuk mendapatkannya apalagi untuk anak yang berada di daerah dengan kondisi akses jalanya sulit. Hal yang demikian cenderung membuat anak menjadi bosan karena hanya berpacu pada buku, dan biasanya pada masa itu proses pembelajarannya masih berpusat pada guru, siswa hanya sebagai pendengar saja. Namun berbeda dengan saat ini, dengan adanya pandemi ini merubah segala sistem yang diberlakukan ketika pembelajaran luar jaringan. Sekarang siswa hanya butuh kuota internet saja dan akses untuk mendapatkan konten belajar pun terbuka sangat lebar. Dengan terbukanya akses tersebut terhadap TikTok maupun YouTube, menjadikan pola pembelajaran yang semula hanya berpacu pada penyampaian guru, sekarang berubah, anak dapat mengeksplorasi hal-hal yang ingin diketahui tanpa terlebih dahulu diajari oleh guru. 

    Hal tersebut bukan berarti guru lepas tangan, namun guru hanya berperan sebagai pembimbing dan menempatkan diri sesuai tingkat dari pembelajaran anak didiknya. Siswa dengan bantuan orang tua dapat berlatih atau belajar terlebih dahulu sebelum pembelajaran dengan guru dimulai. Dengan memanfaatkan konten-konten menarik yang disediakan oleh platform-platform online diharapkan akan menjadikan semangat dan menambah motivasi bagi anak untuk belajar sehingga membantu serta mempermudah pemahaman. Contoh : dalam pembelajaran Matematika, matematika pada dasarnya merupakan ilmu yang abstrak, namun berbanding terbalik pada karakteristik anak SD yang masih mengacu pada hal-hal yang konkret atau nyata seperti yang telah di singgung sebelumnya. Mungkin sewaktu pembelajaran biasa di kelas guru kesusahan dalam mengaitkan matematika dengan hal yang nyata sehingga menyebabkan siswa sulit untuk memahami apa yang coba untuk disampaikan oleh guru. Dengan adanya pemanfaatan media online di atas, baik guru maupun siswa dapat memperoleh informasi dengan gambaran nyata. Konten-konten TikTok dan YouTube yang berisi materi pembelajaran materi yang unik dan menarik seperti praktek, penyertaan gambar, atau pun animasi yang menyajikan hubungan materi matematika itu sendiri dengan kenyataan yang ada. Hal tersebut sesuai dengan kecenderungan anak pada usia tersebut, yaitu meniru apa yang dilihat.  

    Namun, di samping manfaat dan hal-hal positif penggunaan platform di atas, pastilah ada dampak buruk atau negatifnya. Salah satunya adanya gangguan pada saat proses belajar, seperti keinginan lebih untuk bermain game online sehingga mengesampingkan dan bahkan lupa bahwa dia harus belajar. Dampak terburuknya adalah kecanduan. Si anak lebih mementingkan game online tersebut dibandingkan dengan hal yang lainnya. Lupa untuk makan, belajar dan paling buruk lupa untuk sembahyang dan ibadah. Untuk menanggulangi hal tersebut, peran orang tua sangatlah diperlukan. Orang tua dengan tugasnya sebagai guru dan mentor di rumah, mendidik dan mengawasi buah hati mereka dalam penggunaan media-media online tersebut. Sehingga dapat terhindar dari hal-hal yang tidak diharapkan.

     Pandemi Covid-19 membawa duka yang sangat mendalam bagi seluruh bidang kehidupan di dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Namun, hendaknya kita mengambil hikmah dari adanya pandemi tersebut salah satunya dengan pemanfaatan teknologi yang sejalan dengan perkembangan zaman. Dengan adanya pandemi tersebut penggunaan teknologi di segala bidang kehidupan sekarang menjadi sebuah kebutuhan. Sejalan dengan peraturan pemerintah untuk PSBB guna menekan jumlah kasus Covid-19 di Indonesia yang mana memaksa rakyatnya untuk mulai terbiasa dengan teknologi. Tak terkecuali dalam bidang pendidikan. Model pembelajaran dalam jaringan yang diberlakukan ini, sangat bergantung dengan pemanfaatan teknologi. Perkembangan dengan pemanfaatan teknologi tersebut, juga berdampak dari sisi siswa baik secara psikologis maupun fisik serta mental. Dengan adanya perubahan yang terjadi, siswa harus sedari dini merubah cara dalam belajar yang semula konvensional biasa menjadi lebih berkembang secara mandiri terbimbing dengan memanfaatkan teknologi yang tersedia. Mental dari anak tersebut juga terlatih untuk tahan terhadap perubahan-perubahan yang terjadi terlebih dengan anak dalam jenjang pendidikan Sekolah Dasar. Dalam taraf ini peran orang tua sangatlah penting, karena semula tugas pengawasan dan pembimbingan di lingkungan diemban oleh guru, karena pembelajaran daring ini peran tersebut hampir secara penuh diambil alih oleh orang tua itu sendiri, sehingga orang tua harus lebih berkembang juga dalam mendidik anaknya, bukan hanya memenuhi kebutuhan dengan fasilitas-fasilitas, namun juga secara psikis dan moral dengan menjadi suri tauladan yang baik dan memberikan pengajaran dengan menyertakan nilai-nilai moral dan religius sebagai pembatas bagaimana orang tua berlaku dan agar kemungkinan dampak negatif terhidarkan. 

Posting Komentar untuk "Pandemi Memaksa Teknologi Merubah Cara Belajar Anak Sekolah Dasar "